Kerajaan Islam di Sumatra Utara
Kerajaan Islam di Sumatra
Menurut
berita dari Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) menyatakan bahwa pada
saat itu di Sumatra, terutama di pesisir Selat Malaka dan pesisir barat Sumatra
terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam baik yang kecil ataupun yang besar.
Kerajaan-kerajaan tersebut diantaranya, yaitu Aceh, Bican, Lambri, Pedir,
Pirada, Pase, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, Tongkal, Indragiri, Jambi,
Palembang, Andalas, Pariaman, Minangkabau, Tiku, Panchur, Barus, dan lainnya. Kondisi
kerajaan-kerajaan tersebut ada yang sedang mengalami pertumbuhan dan ada pula
yang mengalami perkembangan bahkan ada pula yang mengalami keruntuhan.
Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ada menunjukkan bahwa telah ada kerajaan
Islam yang berdiri sejak dua abad sebelumnya, yaitu kerajaan Samudra Pasai (SNI
Jilid 3, hal. 21).
Kerajaan
Samudra Pasai
Kerajaan
ini terletak di lebih kurang 15 km di sebelah timur Lhokseumawe, Nangro Aceh.
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada tahun 1270-1273 M. Kerajaan ini
dipipimpin untuk pertama kalinya oleh Sultan Malik as-Shalih yang wafat pada
696 H. Sultan Malik as-Shalih sempat disinggung tentang posisinya sebagai
sultan pada Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai. Disebutkan bahwa
sebelumnya Sultan Malik as-Shalih hanya seorang kepala Gampong Samudra yang
bernama Marah Silu.
Letak
kerajaan Samudra Pasai dapat dikatakan strategis karena bersentuhan dengan
jalur perdagangan internasional yang telah berlangsung sejak abad-abad pertama
masehi. Keberadaan jaringan pelayaran dan juga perdagangan internasional itu
tidak hanya didasarkan pada berita Cina, melainkan juga dari berita-berita
pelayar bangsa Arab, beberapa contoh berita tersebut, yaitu Ibn Khurdazbih
(850), Ibn Faqih (902), Buzurg Ibn Syahriiar (awal abad ke-10), dan lain
sebagainya. Dalam berita-berita tersebut sempat disinggung nama tempat yang ada
di Selat Malaka dengan sebutan Salahit (Selat), Kalah (Kedah), Jawah (Sumatra),
Sribuza dan Ramni, Qaqulah, Fansur, Lambri, dan sebagainya (SNI Jilid 3, hal.
22)
Maka
dari itu sejak aba ke-7 dan ke-8 sampai abad ke-11 M di kawasan pesisir Selat
Malaka dan juga di Cina Selatan tumbuh komunitas-komunitas muslim yang merupakan
akibat dari Islamisasi. Kondisi Sriwijaya yang pada saat itu mulai melemah
secara perlahan mulai kalah dominasinya dengan komunitas muslim yang pada
akhirnya berdirilah kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di
Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Terdapat
beberapa raja atau sultan yang memerintah kerajaan Samudra Pasai pada kala itu,
di antaranya :
1. Sultan
Malik as-Shalih (wafat pada 969 H / 1297 M)
2. Sultan
Muhammad Malik az-Zahir (1297-1326)
3. Sultan
Mahmud Malik az-Zahir (1346-1383)
4. Sultan
Zain al-‘Abidin Malik az-Zahir (1383-1405)
5. Sultanah
Nahrisyah (1405-141?)
6. Abu
Zaid Malik as-Zahir (1412-?)
7. Mahmud
Malik az-Zahir (1513-1524)
Nama
sultan yang telah disebutkan di atas selain disinggung dalam Sejarah Melayu dan
Hikayat Raja-Raja Pasai juga tercantum pada mata uang, kecuali nama Sultan
Malik as-Shalih. Pada masa kerajaan Samudra Pasai ada beberapa hal yang perlu
dicatat, yaitu bidang politik dan hubungan kerajaan, bidang keagamaan, dan
bidang perekonomian perdagangan.
Kemungkinan
pada pemerintahan Sultan Malik as-Shalih telah terjalin hubungan dengan Cina
seperti yang telah diberitakan dalam berita pada dinasti Yuan bahwa pada tahun
1282 M, seorang utusan Cina yang bertemu dengan
Menteri dari kerajaan Sumatra di Quilon yang meminta supaya raja Sumatra
(Samudra) mengirimkan dutanya ke Cina. Kemudian pada tahun itu ada dua orang
yang diutus dari Samudra, yaitu Sulaeman dan Snams-ad-Din.
Berdasarkan
berita Ibn Battutah yang berkunjung pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik
az-Zahir (1346-1383) mencatat bahwa pada saat itu terdapat ahli agama yang
berdatangan seperti Persi (Iran) bernama Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz,
dan Taj-al-Din dari Isfahan. Ketika Samudra Pasai mencapai puncaknya pada abad
ke-16 M, Tome Pires memberitakan bahwa pada saat itu kerajaan sedang mengalami
berbagai kemajuan di bidang politik pemerintahan, di bidang keagamaan, dan
khususnya di bidang perekonomian dan perdagangan (SNI Jilid 3 hal. 23)
Diceritakan
pula bahwa kerajaan Samudra Pasai melakukan hubungan persahabatan dengan Malaka
dan bahkan melakukan ikatan perkawinan. Banyak pedagang dari manca negara yang
datang untuk berdagang di Pasai, semisal Rumi, Turki, Arab, Persia, Gujarat,
Keling, Bengali, Malayu, Jawa, Bruas, Siam, Kedah, dan Pegu.
Mata
uang yang digunakan di Samudra Pasai pada kala itu disebut dengan ceitis,
dan mata uang yang terbuat dari emas disebut dengan dramas. Apabila
dibandingkan dengan mata uang Portugis, yaitu crusade, 9 dramas
sama dengan 1 crusado yang juga sama dengan 500 cash. Mata uang emas
tersebut terbuat dari serbukan emas dan perak.
Samudra
Pasai juga menyediakan komoditas ekspor seperti lada, sutra, kapur barus, dan
lain sebagainya yang dapat diperoleh karena tempat itu merupakan kumpulan
berbagai barang dagangan dari berbagai daerah. Pendapatan kerajaan Samudra
Pasai didapatkan dari pajak ekspor dan juga impor (Suma Oriental of Tome Pires,
1944, hal.144-145). Dalam segi agama, kerajaan Samudra Pasai didatangi oleh
para ulama dari Persia, Syria, dan Isfahan. Ibn Battutah menceritakan bahwa
sultan Samudra sangat taat pada agama Islam dari madzhab syafi’I dan sultan
selalu dikelilingi oleh ahli-ahli teologi Islam.
Kerajaan
Samudra Pasai mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penyebaran agama
Islam di Asia Tenggara. Malaka menjadi kerajaan Islam karena mempunyai hubungan
yang erat dengan Samudra Pasai, dan hubungan tersebut semakin diperkuat dengan
adanya perkawinan antara pihak Samudra Pasai dengan pihak Malaka. Tome Pires menceritakan
hubungan antara Samudra Pasai dengan Malaka terutama pada pemerintahan Saquem
Darxa.yang dapat disamakan dengan nama Sultan Muhammad Iskandar Syah, yaitu
raja kedua di Malaka.
Dalam Hikayat Patani diceritakan tentang
peng-islam-an raja Patani, yaitu Paya Tu Naqpa oleh seseorang dari Pasai yang
bernama Syaikh Sa’id karena telah berhasil menyembuhkan raja Patani tersebut.
Setelah memeluk agama Islam, raja Patani tersebut mengganti namanya menjadi
Sultan Ismail Syah Zillullah Fil’Alam beserta tiga orang putra dan putrinyayaitu
Sultan Mudhaffar Syah, Siti Aisyah, dan Sultan Mansur (SNI Jilid 3, hal. 26).
Ketika masa pemerintahan Sultan Mudhaffar
Syah, datang lagi seorang ulama dari Pasai, yaitu Syaikh Safiuddin yang
mendapat perintah dari raja Pasai untuk mendirikan masjid bagi orang-orang
muslim di Patani. Terdapat pula jenis nisan kubur yang disebut dengan Batu
Aceh, yang merupakan nisan kubur bagi raja-raja Patani, Malaka, dan Melayu.
Sejak Portugis mulai menguasai Malaka pada
1511 M, Samudra Pasai dapat dikuasai juga pada tahun 1521 M. Kemudian kerajaan
Aceh Darussalam dibawah pimpinan Sultan Al-Mughayat Syah lebih berhasil
menguasai Samudra Pasai. Kerajaan-kerajaan Islam yang berada di pesisir seperti
Aru, Pedir, dan lainnya berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam Aceh
Darussalam sejak abad ke-16 dan mengalami perkembangan politik, ekonomi
perdagangan, kebudayaan, dan keagamaan (SNI Jilid 3 hal. 28)
Kerajaan
Aceh Darussalam
Berdasarkan berita Cina, hikayat,
legenda, bahkan cerita Portugis, Tome Pires, menyatakan bahwa sebelum Sebelum
kerajaan Islam Samudra Pasai berdiri, telah ada kerajaan-kerajaan. Menurut
berita Cina dari Chau-Ju-Kua dan kitab Nagarakrtagama karya Prapanca
menyebutkan bahwa terdapat suatu kerajaan yang bernama Lambri atau Lamuri pada
abad ke-13-14 M yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit.
Dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat
Syah, yang dikenal juga sebagai Raja Ibrahim dalam berita Portugis berhasil melepaskan
kerajaan Aceh Darussalam dari kekuasaan kerajaan Pedir pada tahun 1520.
Kemudian pada tahun yang sama, berhasil dalam mengambil kerajaan Daya ke dalam
kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam. Pada tahun 1524, kerajaan Pedir dan Samudra
Pasai berhasil ditaklukkan. Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan
Ali Mughayat Syah menyerang kapal Portugis yang berada di bandar Aceh yang
ketika itu dibawah komandan Simao de Souza Galvao (SNI Jilid 3 hal. 28)
Pada tahun 1529, kerajaan Aceh
mempersiapkan kekuatannya untuk menyerang Portugis di Malaka, namun penyerangan
itu dibatalkan karena Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada 1530 M. Setelah
Sultan Ali Mughayat Syah wafat, kedudukannya digantikan oleh Alauddin Ri’ayat
Syah al-Kahar (1537-1571). Usaha yang dilakukan olehnya, yaitu mengembangkan
kekuatan perang, mengembangkan perdagangan, dan mengadakan hubungan
internasional dengan kerajaan Islam di Timur Tengah, seperti dengan Turki,
Abysinia, dan Mesir.
Pada tahun 1563, ia meminta bantuan
Turki untuk mengalahkan kekuasaan Portugis. Dua tahun berikutnya, datanglah
bantuan dari Turki berupa teknisi-teknisi. Dengan kekuatan tentara yang
dimilikinya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Kahar dapat menyerang dan
menaklukkan beberapa kerajaan seperti Batak, Aru, dan Barus. Untuk menjaga
keutuhan kerajaan, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Kahar menempatkan suami
saudara perempuannya di Barus dengan gelar Sultan Barus, dua orang putranya
diangkat menjadi Sultan Aru dan Sultan Pariaman dengan gelar resmi Sultan Ghori
dan Sultan Mughal.
Daerah lain yang diserang oleh kerajaan
Aceh, yaitu Johor dan Malaka yang diserang pada tahun 1537, 1547, dan
1568. Penyerangan itu tidak lepas dari
besarnya kekuatan tentara yang dimiliki oleh kerajaan Aceh. Tentara tersebut
tidak hanya berasal dari Aceh, tapi juga dari Turki dan dilengkapi dengan meriam
yang berukuran kecil ataupun besar. Perluasan politik kerajaan Aceh Darussalam
diteruskan oleh Sultan Ali Ri’ayat Syah, yaitu seorang keturunan Sultan
Pariaman yang memerintah antara tahun 1568 sampai 1588. Penyerangan terhadap
Malaka dilkakukan pada 1573 dan Perak pada 1575. Selain itu, terjalin hubungan
dengan Ratu Kalinyamat dari Japara.
Ketika melakukan penyerangan
terhadap Perak pada tahun 1579, Sutan Ahmad gugur tetapi anak dan istrinya
selamat. Kemudian anaknya, yaitu Mansur dinikahkan dengan putri Sultan Ri’ayat
Syah. Setelah sultan wafat, menantunya inilah yang menggantikan kedudukannya
dengan gelar Sultan Alauddin Mansur Syah.
Dalam Hikayat Bustan as-Salatin
disebutkan bahwa Sultan Alauddin Mansur Syah adalah orang yang sangat baik,
jujur, dan sayang kepada ulama. Oleh karena itulah pada masa pemerintahannya,
banyak ulama yang berkunjung ke Aceh. Setelah beliau wafat, digantikan oleh
Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Ibn Sultan Munawar Syah.yang memerintah hingga
tahun 1588, yang selanjutnya digantikan oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Ibn
Firman Syah (SNI Jilid 3 hal. 30)
Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin
Ri’ayat Syah Ibn Firman Syah, orang-orang Eropa, yaitu Kompeni Inggris dibawah
pimpinan James Lancaster tahun1599 dan 1602, dan orang Belanda yang dipimpin
oleh Cornelis de Houtman, pada tanggal 30 Juni 1599 datang ke Aceh untuk
membeli lada. Sultan Ri’ayat Syah Ibn Munawar Syah wafat pada tahun 1604 dan
digantikan olehSultan Muda yang memerintah hingga tahun 1607.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai
puncaknya pada masa perintahan Sultan Iskandar Muda. Kemajuan-kemajuan yang
dialami oleh kerajaan Aceh Darussalam dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda
menarik perhatian Dennys Lombard dan diuraikan secara mendalam. Pada bidang
politik Sultan Iskandar Muda telah menaklukkan daerah-daerah di pesisir Timur
dan Barat, termasuk Johor yang berada di Semenanjung Malaysia.
Hubungan politik yang terjalin dengan
negeri-negeri di Timur Tengah makin ditingkatkan dan juga dengan perdagangan.
Komodiditas yang di impor antara lain, yaitu beras, guci, gula, anggur, dan
lain sebagainya. Sedangkan komoditas yang diekspor dari Aceh sendiri, yaitu
kayu cendana, damar, obat-obatan, dan parfum (SNI Jilid 3, hal. 31).
Sebelum kedatangan Inggris dan Belanda
bidang perdagangan Aceh sudah mapan, tetapi setelah kehadiran kedua pedagang
itu, bidang perdagangan Aceh mengalami perubahan. Perubahan itu terjadi karena
sistem perdagangan kedua bangsa itu melalui perantara dan pedagang itu tidak
paham dengan cara perdagangan setempat. Sultan Iskandar Muda dikabarkan sebagai
raja yang terkaya dari hasil keuntungan berdagangnya, penghasilan pajak dan
lainnya.
Kerajaan Aceh Darussalam juga mempunyai
sistem birokrasi yang baik dan peraturan hukum yang dicantumkan dalam Adat
Makeuta Alam. Sultan Iskandar Muda juga mendukung perkembangan agama yang
diajarkan oleh para sufisme atau tasawuf, pemikiran mistiko-filosofis yang
diajarkan oleh Hamzah al-Fansuri.
Pada awal abad ke-19, kerajaan Aceh
Darussalam terus mendapatkan tekanan dari Belanda yang berkepentingan untuk
meluaskan kekuasaan politiknya. Di kerajaan Aceh Darussalam sejak tahun 1873
hingga 1904 terjadi peperangan dalam melawan Belanda. Peperangan ini cukup lama
sehingga disebut sebagai perang yang terlama, terkuat, dan terbesar, hal itu
dikarenakan adanya motivasi keagamaan dalam melawan kafir. Perang itu dikenal
dengan nama Perang Sabil.
Dalam peperangan tersebut Jenderal Kohler
berhasil ditembak pada 14 April 1873. Kemudian pada tanggal 9 Desember 1873 tentara
Belanda datang lagi dan berhasil mendudukinya.
Pada saat itu Sultan dan keluarganya beserta Panglima Polim sempat
mengungsi. Tentara Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal J. van Swieten,
pada tanggal 11 Januari 1874 menyatakan bahwa Aceh telah berada dalam kekuasaan
Belanda, tetapi pada nyatanya masih banyak serangan yang dilakukan oleh pribumi
baik yang berada di Aceh Besar ataupun di luar itu.
Penyerangan yang dilakukan oleh Aceh
dipimpin oleh para ulueebalang dan ulama, yaitu Panglima Polim, Habib
Abdurrahman, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar beserta istrinya, Cut Nyak Din. Di
kampung Tunga, pasukan Belanda dapat dipukul mundur hingga pipmpinannya, yaitu
Jenderal Pel ditembak mati pada tahun 1878. Merasa tidak aman, akhirnya Belanda
mundur. Tetapi pada 1884, mereka datang kembali dan melakukan penyerangan
tetapi mereka merasa bahwa serangan yang mereka luncurkan tidak berhasil.
Belanda membuat strategi politik
baru atas nasihat ahli dari Belanda, yaitu Ch. Snouck Hurgronje. Politik yang
mereka lakukan yaitu memisahkan kesatuan kekuatan antara kaum bangsawan dan
kaum ulama Aceh. Politik ini dapat dikatakan berhasil karena satu persatu
pemimpin pasukan Aceh jatuh ke tangan Belanda, seperti Cik Di Tiro dan Muhammad
Syaman.
Penyerangan yang dilakukan oleh tentara
Belanda dibawah pimpinan Jenderal Hazeu membuat pasukan Aceh terdesak. Setelah
berhasil menangkap istri Sultan dan anaknya, serta Panglima Polim dengan
istrinya, akhirnya Sultan Muhammad Daud Syah menyerah dan menandatangani perjanjian
perdamaian pada 10 Januari 1903. Kerajaan Aceh Darussalam mulai menunjukkan
kelemahannya pada abad ke-18 (SNI Jilid 3, hal. 37)
Kerajaan-kerajaan
Islam di Riau
Kerajaan-kerajaan Islam yang disebut
dalam berita Tome Pires, yaitu Siak, Kampar, dan Inderagiri. Meskipun
perdagangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam masuknya Islam di Indonesia pada abad ke-7
dan ke-8, tetapi belum dapat dipastikan bahwa kerajaan-kerajaan tersebut sudah
bercorak Islam. Hal yang mendekati kepastian yaitu kerajaan-kerajaan itu mulai
bercorak Islam pada abad ke-15 M. Pengaruh Islam yang didapatkan oleh
kerajaan-kerajaan itu kemungkinan akibat dari perkembangan kerajaan Samudra
Pasai dan Malaka. Dalam berita Tome Pires disebutkan bahwa ketiga kerajaan itu
mempersembahkan upeti kepada kerajaan Malaka. Ketiga kerajaan tersebut dikuasai
oleh Malaka dibawah pimpinan Sultan Mansyur Syah.
Masing-masing dari ketiga kerajaan
tersebut menghasilkan beberapa komoditas. Siak menghasilkan padi, madu, kitin,
rotan, bahan-bahan apotek,dan banyak emas. Kampar menghasilkan barang dagangan
seperti emas, lilin, madu, biji-bijian, dan kayu gaharu. Inderagiri
menghasilkan barang dagangan seperti Kampar, tetapi emas dibeli dari pedalaman
Minangkabau.
Belanda yang menguasai Malaka pada abad
ke-17 secara otomatis ketiga kerajaan tersebut berada dibawah pengaruh politik
dan perdagangan VOC. Terdapat beberapa perjanjian yang dibuat oleh VOC pada
waktu itu terkait dengan perdagangan.
Kerajaan Siak yang berada di bawah
pimpinan Sultan Said Ali berhasil membawa rakyatnya pada kemakmuran lalu pada
tahun 1811 ia mengundurkan diri sebagai sultan Siak dan digantiakan oleh
putranya, yaitu Tengku Ibrahim. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Siak
mengalami kemunduran. Akibat dari kemunduran itu banyak masyarakatnya yang
pindah ke Bintan, Lingga Tambelan, Trenggano, dan Pontianak. Faktor lain yang
menyebabkan kemunduran kerajaan Siak ini adalah adanya perjanjian dengan VOC
dimana kerajaan Siak tidak boleh melakukan ikatan atau perjanjian dengan negara
lain kecuali dengan VOC.
Sejak abad ke-15, kerajaan Kampar berada
di bawah kerajaan Malaka. Pada masa pemerintahan Sultan Abdullah di Kampar, ia
tidak mau menghadap Sultan Mahmud Syah I di Bintan yang merupakan pemegang
kekuasaan Kemaharajaan Melayu. Sehingga Sultan Mahmud Syah I mengirimkan
pasukannya ke Kampar. Sultan Abullah meminta bantuan Portugis untuk
mempertahankan Kampar. Ketika Sultan Abdullah dibawa ke Malaka oleh Portugis,
Kampar ada di bawah naungan pembesar-pembesar kerajaan seperti Mangkubumi Tun
Perkasa yang mengirimkan utusannya ke Kemaharajaan Melayu yang memohon agar di
Kampar ditempatkan raja. Permohonan tersebut dikabulkan dan dikirimlah Raja
Abdurrahman dan berkedudukan di Pekantua.
Kerajaan Inderagiri sebelum tahun1641
berada di bawah Kemaharajaan Malayu berhubungan erat dengan Portugis. Tetapi
setelah Malaka diduduki VOC, kerajaan Inderagiri mulai berhubungan dengan VOC.
Sultan Inderagiri I ialah Sultan Abdul Jail Syah. Pada tahun 1765 Sultan Hasan
Salahuddin Kramat Syah memindahkan ibu kotanya ke Jayapura, tetapi tanggal 5
Januari 1815 dipindahkan lagi ke Rengat oleh Sultan Ibrahim atau Raja Indragiri
XVII (SNI Jilid 3, hal. 39)
Kerajaan
Islam di Jambi
Letak geografis yang dimiliki oleh
Jambi sangatlah strategis sehingga memudahkan untuk dilakukannya kegiatan
perdagangan, baik lokal, regional, dan internasional. Perdagangan tersebut
telah terjadi sejak abad-abad pertama masehi. Menurut berita Cina, kitab Pei-hu-lu
tahun 875 M menyebutkan nama Chan-pei yang didatangi oleh orang-orang Po’sse
(sebutan untuk orang Persia) untuk mengumpulkan barang dagangan berupa
buah-buahan pinang yang dalam bahasa Sunda disebut jambe.
Karena pedagang Persi yang sudah
beragama Islam maka ada kemungkinan pada saat itu mereka sudah sampai ke Jambi.
Hal itu diperkuat dengan temuan arkeologi berupa pecahan kaca berwarna gelap
dan jiau muda dari Muara Saba, dan juga dari Muara Jambi berupa pecahan kaca berwarna
biru tua dan biru muda, hijau, kuning, dan merah tua serta beberapa permata
yang diperkirakan dari abad ke-10-13 M dan berasal dari Timur Tengah, yaitu
Arab, dan Persi (Iran). Demikian pula dengan temuan pecahan kaca yang ditemukan
di Wonorejo (Kabupaten Tanjung Jabung) juga diperkirakan berasal dari masa yang
sama (SNI Jilid 3, hal. 40).
Berdasarkan temuan-temuan tersebut
kemungkinan Islam sudah memasuki Jambi sejak abad ke-9 M dan ke 10-13 M. Proses
Islamisasi yang terjadi pada saat itu kemungkinan hanya bersifat perseorangan,
karena proses Islamisasi besar-besaran terjadi pada saat tumbuh dan
berkembangnya kerajaan Islam Jambi pada sekitar tahun 1500 M di bawah
pemerintahan Orang Kayo Hitam. Mereka juga meluaskan “Bangsa XII” dari “Bangsa
IX” anak dari Datuk Paduka Berhala.
Dalam Undang-undang Jambi Datuk Berhala
adalah seorang dari Turki yang terdampar di pulau Berhala dan menikah dengan
Putri Salaro Pinang Masak yang sudah beragama muslim. Turunan raja-raja
Pagarruyung yang kemudian melahirkan Orang Kayo Hitam, Sultan Kerajaan Jambi
yang terkenal. Maka dari itu kemungkinan penyebaran Islam sudah terjadi sekitar
tahun 1460 M.
Menurut Sila-Sila Keturunan Raja Jambi, pernikahan
antara Datuk Paduka Berhala dengan Putri Pinang Masak melahirkan beberapa orang
anak, yaitu Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Pingai, Orang Kayo Pedataran, dan
Orang Kayo Gemuk (seorang putri). Diantara bersaudara tersebut, yang menjadi
pengganti Datuk Paduka Berhala, yaitu Orang Kayo Hitam yang diperistri oleh
seorang putri dari saudara ibunya, yaitu Putri Panjang Rambut. Pengganti Orang
Kayo Hitam adalah Panembahan Hang di Aer yang dikenal pula dengan nama
Panembahan Rantau Kapas karena setelah wafat dimakamkan di Rantau Kapas.
Tahun pemerintahan raja-raja Jambi tidak
dicantumkan dalam naskah Sila-Sila Keturunan Raja Jambi, maka dari itu J.
Tideman berusaha untuk menyusunnya.
1. Datuk
Paduka Berhala (1460 M)
2. Orang
Kayo Pingai (1480 M)
3. Orang
Kayo Pedataran (1490 M)
4. Orang
Kayo Hitam (1500 M)
5. Panembahan
Rantau Kapas (1500-1540 M)
6. Panembahan
Rengas Pandak cucu Orang Kayo Hitam (1540 M)
7. Panembahan
Bawah Sawoh cicit Orang Kayo Hitam (1565 M)
8. Panembahan
Kota Baru (1590 M)
9. Pangeran
Keda / Sultan Abdul Khar (1615 M)
10. Sultan
Abdul Jalil
11. Sultan
Sri Ingalogo
Sejak
masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar inilah VOC datang untuk melakukan hubungan
perdagangan, yaitu untuk membeli hasil-hasil kerajaan Jambi, khususnya Lada
(SNI Jilid 3, hal. 43).
Pada
tahun 1616, VOC mendirikan lojinya di Muara Kompeh dengan seizin Sultan Jambi.
Tetapi selang beberapa tahun loji itu mulai ditinggalkan karena penduduk Jambi
tidak mau menjual hasil-hasil buminya terutama lada kepada VOC. Semenjak itu
hubungan antara Jambi dan VOC mulai merenggang. Pada tahun 1642 M, pada masa
pemerinatahan Gubernur Jenderal Antonio van Diemn menuduh Jambi berkerja sama
dengan Mataram. Kemudian pada tahun 1643 Belanda menyodorkan perjanjian yang
hakikatnya memaksakan untuk melakukan monopoli perdagangan, tetapi Sultan Abdul
Kahar menolak dan akhirnya ia berhenti dan digantikan oleh Sultan Abdul Jalil
yang dapat mengikuti kemauan VOC.
Pada
pemerintahan Sultan Sri Ingalogo terjadi peperangan antara kerajaan Johor
dengan kerajaan Jambi, tetapi kerajaan Jambi mendapat bantuan dari VOC hingga
akhirnya mereka memenangkan peperangan itu. Sebagai upah karena telah membantu
kerajaan Jambi dalam perang, VOC terus menyodorkan perjanjian sebanyak beberapa
kali, yaitu tanggal 12 Juli 1681, 20 Agustus 1681, 11 Agustus 1683, dan 20
Agustus 1683. Perjanjian tersbut intinya yaitu menguatkan monopoli pembelian
lada dan sebaliknya VOC memaksakan penjualan kain dan opium.
Setelah
penyerangan yang dilakukan ke kantor VOC yang dilakukan oleh rakyat Jambi,
serta terbunuhnya kepala pedagang VOC, yaitu Sybrandt Swart pada tahun 1690.
Sultan Jambi, yaitu Sultan Sri Ingalogo dituduh terlibat dalam penyerangan itu,
sehingga ia ditangkap dan diasingkan ke Batavia, lalu dipindahkan ke Pulau
Banda. Kedudukannya sebagai sultan digantikan oleh Pangeran Dipati Cakranigrat
yang bergelar Sultan Kyai Gede.
Karena Sultan Sri Ingalogo ditangkap dan diasingkan, maka penerusnya yang lebih berhak, yaitu Sutan Ratu beserta pengikutnya disingkirkan ke Muaratebo dan membawa keris pusaka Sigenjei. Keris Sigenjei merupakan lambing bagi raja-raja yang berhak atas kerajaan. Sejak saat itu kekacauan terus terjadi hingga mencapai puncaknya yaitu perlawanan terhadap Sultan Taha Saifuddin di daerah Batanghari Hulu. Akibat perlawanan itu Sultan Taha Saifuddin gugur dan dimakamkan di Muaratebo (SNI Jilid 3, hal. 44).
Kerajaan
Islam di Sumatra Selatan
Sejak
kerajaan Sriwijaya mengalami penurunan dan runtuh pada abad ke-14 M, proses
Islamisasi mulai terjadi hingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas muslim
di Palembang.
Menurut
tradisi historis, Raden Patah yang merupakan anak raja Majapahit, yaitu
Brawijaya mempunyai keturunan Cina yang berasal dari ibunya. Maka dari itu pada
akhir abad ke-16, Palembang merupakan pusat Islam di bagian selatan Pulau Emas.
Selain karena reputasinya yang bagus karena perdagangan, Palembang juga
merupakan tanah asal bagi Malaka yang mempunyai pengaruh besar pada saat itu.
Sekitar
awal abad ke-16, Palembang berada di bawah kekuasaan Demak yang dipimpin oleh
Pate Rodim, seperti yang dikatakan oleh Tome Pires bahwa pada saat itu penduduk
Palembang kurang lebih 10,000 tetapi banyak diantara mereka yang mati karena
membantu Demak dalam melawan Portugis di Malaka. Sultan pertama yang memerintah
Palembang adalah Susuhanan Sultan Abdurrahman Khalifat al-Mukminin Sayyidil
Iman / Pangeran Kusumo Abdurrahim / Kyai Mas Endi yang memerintah sejak tahun
1659 sampai 1706 M. Sejak tahun 1706, Palembang diperintah oleh 11 sultan,
sultan yang terakhir yanitu Pangeran Kromojoyo / Raden Abdul Azim Purbolinggo.
Dalam
Sajarah Banten diceritakan bahwa pada tahun 1596 Palembang pernah diserbu oleh
Kesultanan Banten dibawah pimpinan Maulana Muhammad yang gugur di Palembang dan
diberi gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seta ing Rana.
Penyerangan tersebut dilakukan bukan karena faktor agama, tetapi karena masalah
ekonomi untuk menambah penghasilan bahan ekspor dari kesultanan Banten.
Interaksi
pertama antara Kesultanan Palembang dengan VOC terjadi pada tahun 1610, tetapi
terjadi kerenggangan. Pada tahun 1658, wakil dagang VOC, yaitu Ockersz dan
pasukannya dibunuh dan di dua buah kapalnya yaitu Wachter dan Jacatra terjadi
perlawanan antara Kesultanan Palembang dan VOC dibawah pimpinan Laksamana Joan
van der Laen.
Pada
saat perlawanan terjadi, keraton dibakar begitu pula dengan Kuta dan pemukiman
penduduk Cina, Portugis, Arab dan bangsa-bangsa lainnya. Kota Palembang dapat
direbut lagi oleh pasukan Palembang dan dilakukan pembangunan kembali, kecuali
Masjid Agung yang baru dibangun pada tahun 1748, yaitu pada pemerintahan Sultan
Mahmud Badaruddin I.
Pada
masa pemerintahan putra dari Sultan Mahmud Badaruddin I, yaitu Sultan Ahmad
Najmuddin, penyebaran agama Islam semakin pesat. Pada masa itu berkembang karya
sastra keagamaan yang dibuat oleh beberapa tokoh, antara lain Abdul al-Sammad
al-Palembani, Kemas Fachr Al-Din, Kemas Muhammad bin Ahmad, Muhammad Muhyi
Al-Din bin Syeikh Sihab Al-Din, dan Muhammad Makrud bin Abdullah.
Sejak
masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II, pasukan Hindia Belanda mulai
menyerang Kesultanan Palembang yang dikenal dengan Perang Menteng. Serangan
besar-besaran yang dilakukan oleh Belanda dibawah pimpinan J.C. Wolterboek pada
Oktober 1819 dapat dipukul mundur oleh prajurit Palembang. Tetapi pada bulan
Juni 1821, Belanda mencoba kembali untuk menyerang Kesultanan Palembang dibawah
pimpinan Jenderal de Kock. Pada penyerangan kali ini, Belanda berhasil
menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II dan dibuang ke Ternate.
Sejak 7 Oktober 1823, Kesultanan Ternate dihapus dan secara otomatis berada di bawah pemerintah Hindia Belanda dengan penempatan Residen Jon Cornelis Reijnst. Tetapi Sultan Ahmad Najaruddin Prabu Anom menolak hal itu dan pada akhirnya ia diasingkan ke Banda, seterusnya ke Manado (SNI Jilid 3, hal. 47).
Kerajaan
Islam di Sumatra Barat
Masuk
dan berkembangnya Islam di Sumatra Barat masih belum dapat dipastikan. Menurut
berita Cina, dari dinasti T’ang dan menyebutkan bahwa pada masa abad ke-7 M ada
sekelompok orang Arab yang menurut W.P. Goeneveldt perkampungan mereka terletak
di pesisir barat Sumatra. Berita mengenai pemukiman Arab tersebut pada
tahun-tahun berikutnya tidak ditemukan lagi, maka dari masih perlu pembuktian
bak data historis ataupundata arkeologis.
Ada
pendapat lain yang mengatakan bahwa Islam datang dan berkembang di Sumatra
Barat pada abad ke-14 M atau abad ke-15 M dan Islam mempunyai pengaruh di lingkungan
kerajaan Minangkabau. Islam yang masuk pada abad ke-15 M mungkin dapat
dicocokkan dengan cerita yang ada pada naskah kuno dari Kerinci tentang Siak
Lenih Malin Sabiyatullah yang berasal dari Minangkabau dan mengenalkan Islam di
daerah Kerinci.
Tome
Pires mencatat mengenai beberapa tempat, seperti Pariaman, Tiku, bahkan Barus.
Di daerah Minangkabau terdapat tiga raja yang Tome Pires ragukan ialah seorang
di antara raja tersebut apakah sudah beragama Islam atau yang kedua lainnya
masih belum. Ketiga tempat tersebut oleh Tome Pires disebut sebagai kunci untuk
ke tanah Minangkabau. Karena ketiga tempat tersebut menghasilkan beberapa
barang dagangan, seperti emas, sutra, damar, lilin, madu, kamper, dan kapur
barus. Setiap tahun daerah tersebut selalu didatangi kapal dari Gujarat
sebanyak dua atau tiga buah untuk membawa barang dagangannya, antara lain
pakaian.
Sejak
abad ke-15 dan ke-16 hubungan antara daerah Sumatra Barat dengan berbagai
negeri melalui pelabuhan-pelabuhannya yaitu perdagangan, seperti yang terjalin
dengan Aceh. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Pariaman adalah salah
satu daerah yang berada di bawah pengaruh kekuasaannya, begitu pula sejak
penggantinya. Pada abad ke-17 di Sumatra Barat terdapat seorang ulama terkenal
yang bernama Syekh Burhan Al-Din, ia merupakan murid dari Abd Al-Rauf
Al-Sinkili. Ia mendirikan surau dan mengajarkan Tarikat Syathariyyah dan ajarannya
tersebut tersebar di daerah Minangkabau. Ajaran tasawufnya cenderung kepada
syariat dan dapat dikatakan sebagai ajaran neosufisme. Oleh masyarakat setempat
ia dikenal dengan sebutan Tuanku Ulakan. Penyebaran Islam semakin meluas dan
mencapai klimaksnya pada awal abad ke-19.
Sejak
abad ke-16 sampai abad ke-19 di daerah Minangkabau merupakan daerah damai
karena warganya saling menghormati satu sama salin, antara kaum adat dan kaum
agama, antara hukum adat dan syariat Islam seperti yang tercetus dalam pepatah
“Adat bersandi Syara, Syara bersandi Adat.” Sejak abad ke-19 terjadi pembaruan
Islam di daerah Sumatra. Pembaruan tersebut merupakan akibat dari adanya perang
Padri, yairu perang antara Golongan Adat dan Golongan Agama.
Raja
tetap dihormati karena merupakan lambing negara, tetapi kekuasaan secara penuh
berada di tangan para Penghulu yang tergabung dalam Dewan Penghulu atau Dewan
Nagari. Semakin lambat laun kehidupan masyarakat Minangkabau timbul kebiasaan
buruk, seperti main judi, menyabung ayam, meminum madat dan minuman keras. Para
pembesar tidak dapat mencegah kebiasaan buruk itu karena mereka juga terlibat
di dalamnya. Maka para ulama menamakan diri mereka “Padri” yang berkeinginan
untuk mengembalikan kondisi yang ada supaya sesuai dengan kemurnian Islam. Di
antara para ulama tersebut adalah Tuanku Kota Tua yang berasal dari kampung
Kota Tua di dataran Agam. Ia mengajarkan tentang kemurnian Islam berdasarkan
Alquran dan Hadis. Pada tahun 1803 terdapat tiga orang haji yang baru saja
Kembali dari Mekah, yaitu Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari
Delapan Kota, dan Haji Piobang dari Tanah Datar (SNI Jilid 3, hal. 48).
Ketika
Haji Miskin melarang untuk menyabung ayam, Kaum Adat melawan dan mengejarnya
hingga ke kota Lawas. Di kota Lawas ia mendapatkan perlindungan dari Tuanku
Mensiangan. Lalu Haji Miskin lari ke Kamang dan bertemu dengan Tuanku Renceh.
Dari pertemuannya dengan Tuan Renceh dengan beberapa tokoh ulama di Luhak Agam,
maka terbentuklah kelompok atau kaum Padri yang bertujuan untuk menegakkan sara
dan membasmi kemaksiatan.
Kaum
Padri terdiri dari 8 orang, yaitu Tuanku nan Renceh, Tuanku Basa, Tuanku
Galung, Tuanku Lubuk Air, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu
Ambelan, dan Tuanku Kubu Senang. Anggota Padri tersebut disebut dengan Harimau
nan Salapan. Kaum Adat dibantu oleh Belanda untuk mengalahkan kaum Padri,
dengan tujuan ekonomi dan politik, sehingga pada saat itu kaum Padri melawan
dua kelompok, yaitu Kaum Adat dan juga Kaum Penjajah Belanda. Belanda
menganggap pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Padri merupakan celah demi
mendapatkan keuntungan politik dan ekonomi.
Perang
Padri berlangsung cukup lama, dan dibagi menjadi tiga masa. Masa pertama
berlangsung pada 1821-1825 ditandai dengan meluasnya perlawanan Padri dengan
seluruh rakyatnya ke Minangkabau. Masa kedua berlangsung pada 1825-1830
ditandai dengan meredanya pertempuran karena Belanda mengadakan
perjanjian-perjanjian dan Padri mulai melemah. Masa ketiga terjadi pada
1830-1838 ditandai dengan perlawanan Padri yang meningkat dan penyerbuan
Belanda secara besar-besaran dan diakhiri dengan ditangkapnya pemimpin-pemimpin
Padri, terutama Tuanku Imam Bonjol dalam pertempuran Benteng Bonjol pada 25
Oktober 1837.
Dengan demikian Belanda dapat mengukuhkan kekuasaan politik dan ekonominya di daerah Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur dan dibuang ke Ambon, dan pada 1841 dipindahkan ke Manado dan ia wafat di tempat itu pada 6 November 1864.
REFERENSI
Sejarah Nasional
Indonesia Jilid 3 : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di
Indonesia.
Komentar
Posting Komentar